HUBUNGAN ANTARA PENGALAMAN KEKERASAN PADA MASA ANAK DENGAN KECERDASAN EMOSI PADA ANAK SLB BAGIAN E BHINA PUTERA SURAKARTA

PRAWOTO , RETNOSARI WULAN (2009) HUBUNGAN ANTARA PENGALAMAN KEKERASAN PADA MASA ANAK DENGAN KECERDASAN EMOSI PADA ANAK SLB BAGIAN E BHINA PUTERA SURAKARTA. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[img]
Preview
PDF
F100030034.pdf

Download (35kB)
[img] PDF
F100030034.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (195kB)

Abstract

Anak tuna laras adalah anak yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku serta kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Anak tuna laras umumnya memiliki kecerdasan emosional yang rendah, ditandai dengan ciri-ciri: suka balas dendam, suka melakukan pengeroyokan, iri hati, berlaku curang dan suka mencela orang lain, agresif dan memusuhi otorita. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor salaj satunya yaitu pengalaman kekerasan yang dialami pada masa anak. Tujuan penelitian ini antara lain untuk mengetahui : 1) hubungan antara pengalaman kekerasan pada masa anak dengan kecerdasan emosi, 2) seberapa tinggi kecerdasan emosi pada subjek penelitian, dan 3) seberapa tinggi kekerasan yang dialami subjek penelitian pada masa anak. Hipotesis yang diajukan: Ada hubungan negatif antara pengalaman kekerasan pada masa anak dengan kecerdasan emosi. Artinya semakin tinggi pengalaman kekerasan yang dialami pada masa anak maka semakin rendah kecerdasan emosi yang dimiliki. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi SLB “E” Bhina Putera Surakarta yang berusia 13-18 tahun. Penelitian ini menggunakan studi populasi, dimana populasi digunakan sebagai subjek penelitian. Jumlah populasi ada 40 anak. Alat ukur yang digunakan yaitu skala kecerdasan emosi dan skala pengalaman kekerasan pada masa anak. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan teknik analisis product moment diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar -0,429; p = 0,006 (p < 0,01) artinya ada hubungan negatif sangat signifikan kekerasan pada masa anak dengan kecerdasan emosi. Semakin tinggi kekerasan pada masa anak maka semakin rendah kecerdasan emosi sebaliknya semakin rendah kekerasan pada masa anak maka semakin tinggi kecerdasan emosi. Berdasarkan hasil analisis diketahui variabel kekerasan pada masa anak mempunyai rerata empirik = 57,100 dan rerata hipotetik = 87 yang berarti kekerasan pada masa anak pada subjek tergolong rendah. Variabel kecerdasan emosi diketahui rerata empirik = 102,725 dan rerata hipotetik = 100 yang berarti kecerdasan emosi pada subjek penelitian tergolong sedang. Peranan atau sumbangan efektif variabel kekerasan pada masa anak terhadap kecerdasan emosi sebesar 18,4% yang ditunjukkan oleh koefisien determinan (r2) sebesar 0,184. Berarti masih terdapat 81,6% variabel lain yang mempengaruhi kecerdasan emosi di luar variabel kekerasan pada masa anak seperti faktor lingkungan keluarga, lingkungan sosial, usia, tingkat pendidikan Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kekerasan pada masa anak dengan kecerdasan emosi. Hal ini berarti bahwa variabel kekerasan pada masa anak mencakup aspek-aspek yang ada di dalamnya dapat dijadikan sebagai prediktor untuk memprediksikan atau mengukur kecerdasan emosi pada siswa-siswi SLB “E” Bhina Putera Surakarta.

Item Type: Karya ilmiah (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Pengalaman kekerasan, Anak, kecerdasan emosi
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: Fakultas Psikologi > Psikologi
Depositing User: Gatiningsih Gatiningsih
Date Deposited: 16 Jul 2009 07:48
Last Modified: 28 Oct 2011 03:58
URI: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/3593

Actions (login required)

View Item View Item