RELASI MAKNA SIMBOL CANDI BOROBUDUR DENGAN AJARAN BUDHA

Hariyanto, Hariyanto (2008) RELASI MAKNA SIMBOL CANDI BOROBUDUR DENGAN AJARAN BUDHA. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[img]
Preview
PDF
H000030018.pdf

Download (106kB)
[img] PDF
H000030018.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (304kB)

Abstract

Candi Borobudur dibangun pada masa kekuasaan wangsa (dinasti) Syailendra di abad ke 8 Masehi. Dinasti Syailendra merupakan penganut ajaran Budha Mahayana. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang amat dimungkinkan jika makna simbol Candi Borobudur memiliki relasi yang protagonis dengan ajaran agama Budha. Pernyataan di atas akan menemui titik yang lebih terang apabila memperhatikan simbol-simbol utama pada Candi Borobudur, yaitu relief, arca, dan stupa. Relief yang menghias di dinding-dinding Candi Borobudur sebagian besar melambangkan ajaran karma yang diyakini oleh umat Budha sebagai hukum sebab-akibat yang selalu berlaku bagi seluruh makhluk hidup. Di samping itu, relief yang diwakilkan oleh kisah Karmawibhangga, Lalitawistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuha juga mempresentasikan ajaran kehampaan dan delapan jalan mulia dalam agama Budha. Adapun arca pada Candi Borobudur memiliki dua jenis, yaitu Manushi Budha atau Budha yang pernah dan akan turun ke dunia; dan Dhyani Budha. Arca-arca Budha tersebut memiliki keunikan pada posisi jari yang berbeda-beda atau disebut mudra. Selain itu, arca-arca Budha juga menghadap ke arah Timur, Utara, Selatan, dan Barat, khusus bagi arca Dhyani Budha ada yang menghadap ke pusat, dan memiliki arca yang tak terlihat oleh mata, yang disebut dengan Adi Budha. Makna simbol arca Manushi Budha dan Dhyani Budha tersebut mempresentasikan ajaran delapan jalan mulia, enam paramita, dan hukum karma dalam agama Budha. Adapun stupa Candi Borobudur yang terdiri dari 72 buah di puncak candi dan 1.472 buah stupa kecil, memiliki kaitan yang begitu kuat terhadap ajaran ajaran Budha, yaitu hukum karma, delapan jalan mulia dan nibbana. Semua itu diwakili oleh bagian-bagian dari stupa yang disebut dengan andha, harmika segi empat dan delapan, yasti, dan teratai. Apabila ditinjau dari konsep kosmologi Budha, Candi Borobudur secara keseluruhan dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkat, yaitu: pertama, tingkat Kamadhatu sebagai tingkat yang paling bawah atau bisa diartikan dengan "dunia hasrat"; kedua, tingkat Rupadhatu yang berposisi di atas tingkat pertama diartikan sebagai "dunia rupa; dan ketiga adalah tingkat Arupadhatu yang dilambangkan oleh puncak Candi Borobudur memiliki makna sebagai "dunia tanpa rupa". Klasifikasi Candi Borobudur dengan berdasarkan konsep kosmologi Budha tersebut ternyata amat sesuai dengan keyakinan agama Budha bahwa proses perjalanan manusia sejatinya akan diakhiri di "dunia tanpa rupa" atau yang disebut dengan ajaran nibbana. Maka dari itu, penelitian pada skripsi ini memiliki konklusi bahwa makna simbol Candi Borobudur yang diwakilkan oleh simbol relief, arca, dan stupa memiliki relasi yang protagonis dengan ajaran-ajaran pokok agama Budha yang berupa ajaran delapan jalan mulia, enam paramita, kehampaan dan hukum karma. Artinya, kedua variabel dalam skripsi ini memiliki posisi yang tidak saling bertolak-belakang, melainkan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.

Item Type: Karya ilmiah (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Candi Borobudur, Manushi, Dhyani, Budha
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BQ Buddhism
Divisions: Fakultas Agama Islam > Ushuluddin
Depositing User: Esti Handayani
Date Deposited: 12 Jun 2009 07:23
Last Modified: 03 Jan 2012 10:33
URI: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/2558

Actions (login required)

View Item View Item